Pageviews last month

Sunday, 21 December 2008

DAFTAR TUGAS

Mohon maaf sebelumnya, daftar tugas yang Anda nanti-nantikan baru sempat sekarang saya posting. Ternyata kesibukan saya di Bandung luar biasa padat, mulai dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, nonstop memperdalam bahasa Inggris. Rasanya saya sudah mau muntah-muntah saking banyaknya materi yang harus ditelan. Semoga yang saya kerjakan di sini tidak sia-sia. Amien!

Beberapa daftar tugas dapat Anda lihat pada artikel di bawahnya. UNTUK PERHATIAN : kumpulkanlah tugas tersebut tepat waktu, agar nilai Anda tidak saya discount 30%. Khusus untuk mahasiswa konversi (baik di kelas konversi maupun bergabung di reguler) Tugas I dapat dikumpul tanggal 3 Januari digabung dengan Tugas II.

Setiap kali mengumpul tugas, pastikan bahwa Anda mengabsen (lembar absen ada pada Asisten saya, Tri Puspita). Satu tugas setara dengan satu kali pertemuan.

Untuk bahan UAS, pelajari materi sebelum mid sekaligus materi tugas ini. Soal dari saya tidak akan jauh-jauh dari situ.
Selamat Belajar!!!

TUGAS EVOLUSI

Berikut adalah tugas perkuliahan yang harus dikumpulkan tepat waktu pada Asisten saya, Tri Puspita. Tugas ini adalah untuk semua mahasiswa yang mengikuti kuliah Evolusi.

Tugas I :
Jelaskanlah sejarah perkembangan manusia secara lengkap menurut teori Evolusi! Lengkapilah dengan gambar, jika memungkinkan.
(Dikumpul paling lambat tanggal 27 Desember 2008)

Tugas II :
Ceritakanlah mengenai Evolusi Organik! Menurut Anda, apakah teori tersebut bertentangan dengan agama atau tidak? Jelaskanlah alasan Anda!
(Dikumpul paling lambat tanggal 3 Januari 2009)

Khusus mahasiswa konversi (baik yang mengikuti kelas reguler maupun konversi), selain tugas di atas, berikut adalah tugas tambahan untuk Anda :
Pelajarilah tentang Hukum Hardy-Weiberg, lalu kerjakanlah soal-soal hitungan mengenai frekuensi alela berdasarkan hukum tersebut! Anda boleh mencari soal-soal tersebut dari berbagai sumber yang terkait. Kerjakanlah minimal 7 soal!
(Dikumpul paling lambat tanggal 10 Januari 2009)

TUGAS GENETIKA LANJUT

Berikut adalah tugas Genetika Lanjut yang harus dikumpul sesuai tanggalnya masing-masing kepada Asisten saya, Tri Puspita. Tugas ini adalah untuk mahasiswa reguler, mahasiswa konversi yang mengambil kuliah reguler, maupun kelas konversi.

Tugas I :
Kerjakanlah latihan soal bab 13 dari buku GENETIKA karangan Suryo, mulai dari nomor 13-1 s.d 13-6!
(Dikumpul paling lambat tanggal 27 Desember 2008)

Tugas II :
Buatlah rangkuman dari bab 14 (Sistem Lawan Jodoh) dari buku Genetika Suryo! Tidak lebih dari 4 halaman F4 huruf TNR font 12.
(Dikumpul paling lambat tanggal 3 Januari 2009)

Tugas III :
Jelaskanlah peristiwa polygen pada hewan dan tumbuhan! Sertai pula dengan 2 nomor latihan soal yang terdapat pada bab 14 (boleh pilih nomor berapa saja).
(Dikumpul paling lambat tanggal 10 Januari 2009)

Khusus mahasiwa konversi (baik yang mengikuti kelas konversi maupun yang bergabung dengan reguler, selain tiga tugas di atas, ada tugas tambahan yakni :
Pelajarilah tentang pembuatan peta kromosom. Kemudian kerjakan latihan soal pada bab 10 nomor 10-13 buku Genetika Suryo!
(Dikumpul paling lambat tanggal 10 Januari 2009)

TUGAS PERKEMBANGAN HEWAN

Berikut adalah tiga buah tugas yang harus dikumpulkan kepada Asisten saya, Tri Puspita, sesuai dengan tanggal yang tercantum. Tugas ini diperuntukkan kepada mahasiswa reguler maupun mahasiswa konversi yang mengikuti kuliah reguler.
Tugas I :
Jelaskanlah proses terbentuknya organ mata!
(Dikumpul paling lambat tanggal 27 Desember 2008)

Tugas II :
Jelaskan dan gambarkan proses pembentukan selaput ekstra embryonik pada ayam!
(Dikumpul paling lambat tanggal 3 Januari 2009)

Tugas III :
Buatlah rangkuman dari Bab VII Diktat Perkembangan Hewan--Mekanisme yang Mendasari Perkembangan Normal--menjadi tidak lebih dari 3 halaman F4 huruf TNR font 12!
(Dikumpil paling lambat tanggal 10 Januari 2009)

Monday, 8 December 2008

CITA-CITA

Saya pernah mendengar ungkapan seperti ini : Gapailah cita-citamu setinggi bintang di langit. Tapi saya juga pernah mendengar yang seperti ini : Gantungkanlah cita-citamu setinggi kusen jendela, agar lebih mudah digapai.

Entahlah, tapi saya cenderung mendeskripsikan diri saya seperti pepatah yang ke-2. Namun itu bukan berarti saya tergolong kaum yang pesimistis. Tidak, saya hanya mencoba bersikap lebih realistis. Saya selalu berupaya menyeimbangkan setiap impian saya dengan kenyataan yang sedang saya hadapi.

Bukan pula berarti saya tidak berani bermimpi. Justru saya seorang pemimpi. Hanya saja kadang tidak berani mewujudkan mimpi-mimpi itu. Tapi, menurut Mario Teguh (kalau kamu rajin nonton Metro TV, pasti tahu dengan sosok yang satu itu. Minimal pernah dengar namanya lah..) mimpi itu harus yang tidak masuk akal. Kalau tidak begitu, maka bukan impian namanya. Dan tugas kitalah, untuk tetap menjaga agar mimpi itu tetap nyata adanya walaupun kita sudah terjaga dari tidur. Selanjutnya mulailah untuk meretas jalan agar jalan menuju mimpi itu menjadi serealitas mungkin.

Saya juga percaya ungkapan (kalau bukan Plato, berarti Aristoteles) bahwa manusia itu adalah apa yang dipikirkannya. Kalau kita berfikir kita akan berhasil, maka kita betul-betul akan berhasil. Paling tidak otak kita akan menuntun seluruh tubuh kita untuk meraih keberhasilan itu.

Dan saya bercita-cita untuk melanjutkan studi ke program master. Mungkin cita-cita yang biasa bagi kebanyakan orang. Tapi saya bermimpi untuk meraihnya di luar negeri. Mungkin Amerika, Inggris, atau ke negara Eropa lain. Waktu dulu, mimpi itu cukup di dalam benak saya saja. Tapi seseorang pernah berkata: kata-kata adalah doa. Semakin sering kita ucapkan, maka semakin dekat kita dengan apa yang kita inginkan itu.

So, saya kemudian tak ragu-ragu lagi berbagi impian itu kepada orang lain. And you know what, tiba-tiba saja semua jalan terbuka untuk saya! Semuanya jadi terasa mudah dan saya seolah-seolah selalu berada pada waktu dan tempat yang tepat.

Finally, here I am. Setelah berjibaku dalam test TPA dan TOEFL yang diadakan Bappenas dan Dikti beberapa waktu yang lampau, akhirnya saya termasuk dalam 120 orang (dari seluruh Indonesia, lho...) yang berhak mengikuti English Course for Special Purpose di ITB. Diharapkan selepas kursus gratis itu nilai TOEFL saya bisa didongkrak jadi 600, supaya layak untuk mengikuti perkuliahan di luar negeri.

Bahagia? Tentu saja. Bingung? Lebih lagi. Empat bulan bukan waktu yang singkat untuk meninggalkan orang-orang yang saya sayangi. Terutama si kecil yang belum lagi genap berusia dua tahun. Sedang lucu-lucunya, kata orang. Bisa saya bayangkan, betapa kangennya saya nanti di sana. Rasanya sayang sekali melewatkan waktu sedemikian lama tanpa turut memantau perkembangan harian buah hati kita.

Tapi, sekali lagi, pepatah lama juga berkata: No Pain, No Gain. Atau kalau orang Jawa bilang: Jer Basuki Mawa Beya (mohon maaf kepada pembaca yang asli Jawa kalau pepatah saya salah penulisannya. Maklum, saya bukan orang Jawa). Setiap nilai plus yang kita peroleh, pasti akan ada konsekuensi di belakangnya. Bukankah setiap kali kita akan naik kelas harus selalu melewati ujian terlebih dahulu?

Solusinya? Kuatkan hati, teguhkan iman! Mungkin kesulitan yang saya hadapi serta rasa rindu itu bakal jadi obat yang mujarab agar saya dapat menyelesaikan kursus itu dengan baik, and as soon as possible. Jadi pengorbanan saya dan orang-orang di sekitar saya tidak sia-sia adanya.

Satu lagi, saya juga butuh sebanyak-banyaknya doa, karena doa dari saya seorang rasanya tak cukup untuk menggoyangkan Arsy. Satu kalimat saja doa dari Anda untuk keberhasilan saya, berarti sangat banyak bagi saya. Untuk doa ikhlas Anda, semoga Allah berkenan membalasnya dengan sejuta kebaikan bagi Anda.

Amiin...

Wednesday, 12 November 2008

KARYA BARU

Sekitar medio Juni lalu, pihak Puspaswara menelpon saya untuk meminta naskah novel baru. Uniknya, mereka telah menyiapkan beberapa judul dan meminta saya untuk memilih salah satu. And one more thing, mereka memberi tenggat 10 hari untuk menulis 40 halaman novel itu. Itupun kalau boleh saya golongkan sebagai novel. Saya excited, karena belum pernah saya menulis dengan deadline seperti itu. Biasanya saya menulis by mood. Ho..ho..ho.. ternyata sulit juga ya mencoba untuk profesional itu. Apalagi di tengah kesibukan yang kian menggunung.
Sulit bukan berarti mustahil, bukan? Dan akhirnya saya berhasil menyelesaikan novel itu tepat 10 hari, termasuk waktu untuk mencari-cari ide yang harus ditulis.
Untuk satu judul IKATAN ABADI, saya sempat membuat tiga draft cerita, dan akhirnya memilih satu yang saya anggap lebih fresh dan lebih gaul, sesuai dengan target pembaca yang ditentukan oleh penerbit. Yakni usia SMP. Yaah... genrenya sedikit di bawah teenlit begitu.
Tiga bulan menunggu, saya pun menerima surat kontrak dari penerbit. Finally! Melihat surat kontrak yang sedikit berbeda dari surat kontrak novel saya yang pertama, saya agak mengernyitkan kening. Sedikit sih.
Akhirnya saya tiba pada kesimpulan bahwa mungkin penerbit sesunguhnya berencana menerbitkan novelet, yang merupakan kumpulan dari penulis-penulis yang mereka punya. Bagi saya, that's okay. Yang penting saya punya kesempatan lagi.
The problem is, how can I keep the chance go on? Karena saya ingin kreativitas saya menulis tidak berhenti begitu saja. Saya ingin ada novel ke-3, ke-4, dan seterusnya. Sebenarnya saya menyimpan beberapa ide, dan dua di antaranya bahkan sudah separuh perjalanan. Tapi kok ya susssaah... banget untuk terus konsisten menulis tanpa dipengaruhi mood. Mungkin saya harus dikejar-kejar deadline penerbit dulu baru bisa kelar, he..he..he..

AMANAH

Dibatasi oleh banyaknya kesibukan membuat saya alpa mengisi blog saya ini. Baru sekarang berkesempatan lagi untuk membagi cerita yang sepertinya sudah menyempiti ruang benak saya.
Beberapa waktu lalu saya dipercayai suatu amanah. Yakni memegang suatu jabatan baru di lingkungan kerja saya. Believe it or not, hal pertama yang saya lakukan adalah menolaknya! Bagi saya--an ordinary woman--memegang jabatan baru sama saja dengan menambah beban hidup saya yang sudah bertumpuk ini. Mungkin orang lain menanggapinya picik atau naif, whatever.
Namun bagi saya, jabatan baru bukan sekedar tunjangan jabatan yang bertambah atau status sosial yang meningkat. Jabatan bagi saya hanyalah suatu pembagian tugas, di mana itu berarti akan ada lebih banyak lagi orang yang harus saya layani.
Layani? Yap. Memiliki jabatan yang lebih tinggi itu berarti kita dipercaya untuk melayani kebutuhan orang lain dalam mencapai tujuan mereka, tentu saja dengan cara yang lebih elegan.
Namun satu hal yang saya yakini, senantiasa berada dalam safety zone alias takut menerima tantangan baru, tidak akan membuat saya tambah maju. So, singkat cerita sekarang saya sudah menjalani rutinitas yang baru itu.
Sulit? Jangan ditanya. Prinsip saya, tak ada pertanyaan yang membuat kita tampak bodoh. Just learning by doing. Beberapa SMS dari teman sejawat yang menguatkan saya tetap saya simpan sampai sekarang, untuk me-refresh semangat saya jika sedang down.
Pokoknya, niatin aja BISMILLAH...

Monday, 19 May 2008

BUAH SIMALAKAMA ITU BERNAMA UN

Ujian Nasional (UN) benar-benar ibarat buah simalakama. Membuat serba salah siapa saja, terutama orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Di salah satu pihak—yakni para guru dan kepala sekolah—dituntut untuk menyelenggarakan UN secara jujur dan adil. Namun di lain pihak—yakni pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh Dinas Pendidikan—juga menuntut agar para peserta UN lulus dengan nilai yang memuaskan. Apabila ternyata di kemudian hari ada siswa yang gagal melewati UN, mereka merasa berhak untuk menjadikan para guru dan kepala sekolah tersebut sebagai kambing hitam yang paling pas.

Dan sebagai konsekuensinya, pihak yang dinyatakan bersalah dalam hal ini harus siap-siap berkeringat dingin karena dipanggil oleh pihak Dinas Pendidikan untuk ’mempertanggungjawabkan perbuatan’ mereka. Paling sedikit sanksi yang diterima adalah mutasi ke sekolah lain.

Hal itulah yang kemudian telah berlangsung selama ini, terutama sejak diberlakukannya UN dengan angka mati. Para guru dan kepala sekolah kemudian merasa wajib untuk menjaga prestise sekolah, sekaligus menyelamatkan kepulan asap dapur mereka. Apalagi yang akan ditempuh, kalau bukan dengan menghalalkan segala cara.
Maka menjadi tidak asing lagi bagi kita untuk mendengar adanya berbagai kecurangan dan kongkalingkong dalam pelaksanaan UN. Dan seperti efek domino, hal ini juga berimbas pada sebagian besar siswa peserta UN. Mereka cenderung bersikap apatis dan sedikit santai, karena merasa para guru ada di belakang mereka siap untuk mem-back up dalam perolehan nilai.
Dan begitulah yang terus terjadi, berputar ibarat lingkaran setan yang tiada berkesudahan. Akibatnya, lambat laun hilanglah rasa kepercayaan masyarakat terhadap kemurnian hasil UN ini. Alangkah mirisnya! Dunia pendidikan kita justru demikian tidak mendidik.
Akhir-akhir ini suara sumbang mengenai kecurangan dalam pelaksanaan UN mulai membuat merah telinga pemerintah. Oleh pemerintah dibuatlah suatu peraturan baru dalam pelaksanaan UN, yakni diberlakukannya pengawalan tingkat tinggi.

Dengan melibatkan pasukan Densus 88 serta adanya Tim Pengawas Independen (TPI) diharapkan pelaksanaan UN dapat berlangsung lebih fair. Atau minimal dapat mengurangi tingkat kebocoran soal. Sekali lagi, alangkah mirisnya! Dengan demikian hanya satu yang terlihat, bahwa sudah sangat rendahnya rasa saling percaya antar komponen dunia pendidikan.
Mengutip apa yang ditulis oleh Mr. Gene—yang juga berkecimpung dalam dunia pendidikan—dalam genenetto.blogspot.com., melibatkan pasukan anti terror Densus 88 merupakan suatu ironi yang sangat luar biasa. Seolah-olah di Indonesia ini tingkat terorisme sudah sangat rendah, sehingga mereka kemudian dengan bebas diikutsertakan dalam pengawalan soal UN.
Padahal seperti yang kita ketahui bersama, bahkan tim KPK yang akan menggeledah ruangan tersangka koruptor pun tidak dikawal pasukan anti terror. Maka Mr. Gene mempertanyakan apakah UN jauh lebih penting dari pemberantasan korupsi? Demikian pula Bank Indonesia pada kenyatannya tidak dikawal oleh pasukan anti terror, yang menyiratkan bahwa UN lebih penting dari ekonomi nasional. Padahal, coba bayangkan seandainya Bank Indonesia kemudia dibom oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Entah seberapa besar tingkat kerusakan yang akan terjadi, belum lagi dengan dokumen-dokumen yang berada di dalamnya. Namun, sekali lagi, UN dianggap lebih krusial dibanding itu semua. Namun, hal yang paling menyedihkan adalah perlakuan terhadap para guru dan Kepala Sekolah yang ‘tertangkap basah’ membantu siswa dengan membocorkan jawaban UN. Mereka dituding dan diposisikan seolah-olah jauh lebih buruk dari koruptor yang telah menelan uang rakyat hingga milyaran rupiah.

Yang terjadi, UN tetap saja mempunyai celah yang bisa dilewati. Bahkan kegiatan meloloskan para siswa itu dari UN sepertinya sudah sangat terorganisir. Sehingga sulit untuk dilacak lebih lanjut.

Dari kenyataan di lapangan, diketahui baik dari media massa maupun dari lisan rekan-rekan yang menjadi anggota TPI, keberadaan para pengawas tambahan—yang tugasnya mengawasi pelaksanaan ujian—tidak berpengaruh banyak. Bahkan terkesan di beberapa sekolah, pihak TPI seakan-akan dialihkan perhatiannya agar tidak berkonsentrasi dalam mengawasi pelaksanaan UN. Tragisnya malah ada juga kepala sekolah yang berpesan secara tersirat agar pengawasan tidak dilaksanakan terlalu ketat.

Dari beberapa siswa SMU yang sempat berbagi cerita, ternyata guru-guru yang bertugas mengawas secara silang pun bersikap tahu sama tahu. Walaupun tidak semua, tetapi kenyataannya ada guru pengawas yang sengaja bersikap sangat longgar dalam mengawas, dalam arti menutup mata walaupun ada kecurangan di depan matanya. Atau bahkan dengan sengaja memberikan keleluasaan bagi siswa untuk saling mencontek, seolah-olah mengerti akan kesulitan yang dihadapi siswa.

Dan anggota TPI tidak bisa berbuat banyak, karena mereka tidak dizinkan melaporkan kejadian yang mencurigakan tanpa bukti fisik yang akurat. Jadi, jika mereka menangkap adanya gejala yang kurang beres di sekolah, maka hanya dapat ditelan dalam hati jika tidak disertai bukti super akurat yang dapat dilihat secara fisik.

Pernah juga dilaporkan oleh harian Lampung Post, di suatu SMP swasta, seorang pengawas bahkan dengan vulgarnya mendiktekan jawaban di depan kelas. Dan lagi-lagi anggota TPI tidak dapat berbuat banyak untuk itu.Namun, pihak Dinas tidak bisa menelusuri lebih lanjut, lagi-lagi karena alasan bukti yang tidak cukup valid.

Kalau sudah begitu, maka keberadaan TPI dan pasukan anti terror patut dipertanyakan ulang. Cukup efektifkah keberadaan mereka? Atau karena kehadirannya dapat membuat UN terkesan lebih terjamin, maka mereka dihadirkan oleh pemerintah untuk menyenangkan serta menenangkan hati masyarakat saja?

Lalu ke depannya mau seperti apa? Mau dibawa ke mana UN kita? Walaupun sudah beredar wacana bahwa UN sebaiknya ditiadakan, namun tidak dapat dipungkiri adanya evaluasi tahunan tersebut tetap dirasakan perlu. Tinggal bagaimana kita menyikapinya saja.
Ujian Nasional janganlah dianggap sebagai batu penghalang bagi kesuksesan siswa-siswa kita, melainkan sebagai pemacu bagi mereka untuk mau berusaha lebih giat. Kita hanya perlu mendorong dan memotivasi mereka untuk menyiapkan diri lebih baik, bukannya memfasilitasi dalam arti menyuapi jawaban demi jawaban. Karena hal itu bukan hanya membuat siswa yang malas makin terhanyut saja, melainkan juga menurunkan semangat dari para siswa yang memang berhasrat untuk berhasil dengan keringat sendiri.

Demikian juga dengan angka mati, janganlah dianggap sebagai momok. Di negara lain—contohnya Singapura dan Malaysia—angka mati bukanlah hal yang baru, bahkan dengan nilai yang lebih tinggi. Namun tidak membuat para pendidik di sana menjadi kebakaran jenggot. Siswa di luar pun terkondisi untuk menyiapkan diri lebih baik jika musim ujian tiba.
Hanya saja, satu Ujian Nasional tidak bisa disamaratakan pada setiap daerah, karena mafhumnya kemampuan siswa di tiap daerah tidaklah seragam. Siswa di kota besar yang beruntung mendapatkan fasilitas belajar yang lengkap tentu akan memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding mereka yang menuntut ilmu di pedalaman di mana guru yang ada hanya bisa hadir satu minggu sekali.

Ibarat Upah Minimum Regional (UMR) yang disesuaikan dengan pendapatan asli daerah, seyogyanyalah standard soal-soal UN pun harus disesuaikan dengan kemampuan rata-rata siswa di setiap daerah, sebagaimana soal UMPTN di zaman dahulu yang dibedakan berdasarkan regional. Dengan begitu, peserta ujian tidak akan dirugikan. Dari sana akan timbul rasa aman dalam menghadapi UN, sehingga pihak-pihak yang terkait tidak perlu merasa cemas dengan kehadirannya. Bisa dipastikan, usaha-usaha kotor untuk memperkosa nilai-nilai kejujuran dalam pelaksanaan UN kemudian dapat kita tekan secara drastis, walaupun tidak dapat menjadi 0%.

Namun di atas itu semua, yang paling utama adalah bagaimana cara kita memandang
kesuksesan seorang siswa. Selama ini, siswa akan dianggap pintar jika kemampuan analisis dan logikanya di atas rata-rata. Maka kita terbiasa lebih memandang siswa yang pandai dalam bidang MIPA dibanding siswa yang bakatnya di bidang IPS, sastra, atau seni. Padahal jenis kecerdasan siswa itu ada berbagai macamnya. Lagipula, bukankah seorang calon penerima nobel sastra tidak harus jago matematika?

Mengutip apa yang ditulis oleh M. Joko Susilo dalam bukunya Pembodohan Siswa Tersistematis (2007) , pendidikan kita terbiasa melakukan pengukuran yang eksak dan berstandard presisi dengan teknik tes (objektif) terstandard dan isomorfis. Perannya sebagai alat bagi kita untuk menghakimi siswa telah mengakar kuat pada tradisi dunia pendidikan di Indonesia.

Alangkah baiknya—masih menurut Joko—kita memulai suatu paradigma baru dalam melakukan praktik pembelajaran, di mana praktik pembelajaran yang didominasi oleh teori belajar asosiasi dan behavioristik akan digeser dengan teori belajar yang kognitif dan konstruktivistik. Sehingga ke depannya pembelajaran akan lebih berfokus pada pengembangan kemampuan intelektual yang berlangsung secara sosial dan kultural.

Siswa kemudian akan terdorong untuk membangun pemahaman dan kemampuannya sendiri dalam konteks sosial, dan belajar dimulai dari pengetahuan awal dan perspektif budaya. Tugas belajar akan didesain menantang dan menarik untuk mencapai derajat berpikir tingkat tinggi. Dengan demikan proses belajar akan menjadi sama pentingnya dengan hasil belajar. Berpikir cerdas pun dikonsepsikan sebagai kemampuan memonitor belajar dan berpikir sendiri, karena pembelajaran bukan sekedar mengusung informasi, melainkan juga membangun watak dan identitas personal.

Wednesday, 26 March 2008

Lagi-lagi Ayat-Ayat Cinta

Assalamu'alaikum

Buat Anda yang sedang tergila-gila Ayat-Ayat Cinta atau sedang terinfeksi virus Ayat-Ayat Cinta, saya yakin segala hal yang menyangkut tentangnya sangat Anda ikuti. Saya juga. Saya sudah sangat lama membaca novelnya, bahkan jauuuh sebelum novelnya jadi best seller. Waktu itu saya juga tahu dari saudara, dan numpang baca. Ternyata saya langsung terinfeksi virusnya. Saya jadi jatuh cinta pada novel bergenre religius seperti itu (walaupun tidak serta merta mengubah aliran novel saya yang cenderung serius tapi santai). Dan sepertinya banyak penulis baru yang tertular untuk ikut-ikutan membuat novel yang mirip-mirip seperti itu, dengan harapan ikut terciprat popularitas.

Terus terang saya menulis artikel ini karena tergerak setelah membaca komentar tentang filmnya dari blogger genenetto.blogspot.com, yang diposting oleh gene sendiri. Menurut saya sah-sah saja, toh setiap orang berhak punya sikap dan pendapat masing-masing, dan berhak juga menginterpretasikan apa yang telah dilihatnya.

Saya juga. Karena saya sangat menikmati novelnya, maka wajar saja kalau saya jadi punya ekspektasi yang cukup tinggi atas filmnya. Promosi yang gila-gilaan serta pro kontra yang menyertai telah membuat film ini menjadi salah satu yang paling dicari oleh masyarakat akhir-akhir ini. Dan terus terang saja (di tengah puja dan puji masyarakat tentang filmnya) saya merasa kecewa dengan film ini. Bukan berarti saya tak menghargai jerih payah mereka yang sudah terlibat selama 1,5 thn untuk menyelesaikan film ini.

Kecewa saya terlebih karena saya tak berhasil mendapatkan visualisasi yang saya harapkan selama ini. Pertama dari segi setting. Saya tahu, kru kesulitan untuk syuting di Kairo. Tapi saya rasa, sutradara sekelas mas Hanung bisa mewujudkan visualisasi tentang Kairo yang lebih baik dari itu. Saya teringat Ca Bau Kan, berhasil menghadirkan kembali setting Indonesia zaman penjajahan. Demikian pula Harry Potter, bahkan dunia yang penuh khayal yang hampir mustahil biasa terbayangkan, ternyata bisa diwujudkan, bahkan melebihi daya khayal kita.

Kedua dari segi kostum. Aduuh, itu fim kelihatan banget bukan di Mesir nya! Pakaian Noura yang ketat, memangnya cewek-cewek Bandung? Cara pemakaian jilbab para tokoh muslimah di situ pun, lebih mirip jilbab Melayu daripada jilbab Mesir. Cadar dan jubah Aisyah juga terlihat 'mengganggu, lebih mirip gamis wanita Indonesia umumnya. Mana pakaian yang serba hitam dan total menutupi bentuk badan itu? Maaf ya sebelumnya bagi penata kostum...

Ketiga, dari segi karakter. Saya akui ada bagian akting para aktornya yang sangat saya sukai. Misalnya Fedi Nuril saat mecoba sholat di dalam penjara, tapi tidak kunjung bisa. Total banget penghayatannya! Tapi sayang, kesan Fahri yang sangat menjaga adab dengan wanita kok justru hilang? Bukankah Fahri adalah orang yang sangat menjaga pandangan? Kok malah matanya kelewat sering jelalatan? Nurul juga, kok berubah jadi genit dan centil seperti itu? Mana Nurul yang lugu dan menjaga adab dan hijabnya?

Keempat, yang paling parah menurut saya, dari segi ceritanya. Dulu, sebelum menonton filmnya, saya sempat heran, kok mereka yang sudah pada nonton justru ditanyai tentang poligami, sih? POLIGAMI? Ternyata jalan ceritanya sudah bertambah jauh, bahkan mengubah essensi cerita asalnya. Di dalam novelnya, poligami bukanlah issue sentralnya. Kok jadi begini? Filmnya malah dijadikan polemik yang tidak berkesudahan akibat issue poligami ini.

Dengan begitu banyak perubahan yang terjadi (dan saya yakin akibat banyaknya kompromi yang harus dilakukan) saya jadi bertanya, apakah Kang Abik tidak dilibatkan dalam penggarapannya? Dan kalaupun iya, kok beliau setuju dengan berbagai macam kompromi itu?

Satu yang saya sukai dari film itu adalah tata musiknya. Menurut saya hal itulah yang berhasil menguras emosi penonton. Musik yang tepat dan mendayu.

Saya akhirnya menyepakati pernyataan dari seorang kritikus film (yang saya lupa namanya), kata beliau, Ayat-Ayat Cinta bukanlah film dakwah, melainkan film romance yang berlatar belakang dunia Islam. Itu saja. Jadi jangan dibesar-besarkan berbagai macam issue di dalamnya. And however, Ayat-Ayat Cinta tetaplah sebuah fiksi, bukanlah ajaran Islam yang sesungguhnya. Ayat-Ayat Cinta hanyalah secuil dari Islam yang luas dan penuh rahmah.

Wassalam.

Tuesday, 19 February 2008

Ribetnya Jadi Seorang Saya

Assalammu'alaikum smuaa...

Kenapa judulnya dikasih seperti itu yah? Nggak tahu juga, tahu-tahu kepikiran seperti itu. Akhir-akhir ini saya merasa agak ribet. Soalnya ada begitu banyak yang kepingin saya kerjakan, tapi ada begitu banyak pula kendala yang saya hadapi. Tepatnya keterbatasan.
Saya kepingin nulis novel lagi, tapi kadang saya sudah terlalu lelah saat malam hari. Padahal satu-satunya waktu yang saya punya adalah malam hari, ketika anak saya udah tidur. Bayangin aja, seharian di kantor,momong bayi, ngurusin suami, ngurus rumah tangga, wajar aja kalau energi saya udah habis saat malam tiba.
Walaupun kadang-kadang sore hari saya ceoki dengan kopi, tetap aja badan saya tidak bisa di ajak kompromi. Padahal novel yang lagi saya garap temanya agak berat. Menguras pikiran dan butuh konsentrasi banyak.
So, jadilah saya banting stir agak jauh. Saya mulai nulis teenlit lagi, yang ringan dan mengalir. Ternyata asyik juga. Novel ini terinspirasi dari novelnya Megin Cabbot yang lincah plus novel Sophie K. yang super lucu, namun tetap berbobot. Harapan saya sih, novel yang belum tahu apa judunya itu bisa selaris itu. Amiien..!
Trus saya juga kepingin rumah tangga beres dan rapi jali setiap saat. But, susyahnya minta ampun. Apalagi anak semata wayangku (saat ini) sudah mulai berjalan dan hobi banget ngehamburin semua barang yang ada dalam radius jangkauannya. Ditambah lagi kalo si Olive kecil itu lagi pengen makan sendiri. Saya bisa nyapu entah berapa kali. Belum lagi suaranya yang super duper nyaring persis sirine PBK. Pusiing...deh!
But, saya ambil hikmahnya aja deh. Disyukuri dan dinikmatin aja semua. Baru deh, kerasa indahnya. Istilah kerennya itu berdamai dengan keadaan. Jangan berusaha memiliki apa yang kita cintai, tapi, cintai aja apa yang sudah kita miliki.

Wednesday, 16 January 2008

Berbagi Rasa

hi again!

Buat kamu-kamu yang udah melewati masa remaja, trus udah beranjak dewasa, truss sedang menuju tua (ha..ha..), berarti kita di posisi yang sama. Tau nggak, akhir-akhir ini aku mulai kepikiran tentang kerut-merut yang mulai 'menghiasi' sudut mata en bibirku (kesannya kok tua buangets, ya..?). Padahal duluu.. aku suka ngetawain orang-orang yang kelewat khawatir tentang penampilan mereka. Sekarang baru kerasa, ternyata.
Apalagi buat emak-emak muda yang ngerasa nggak secantik dulu lagi (yah, jelas lah..). Semenjak punya anak, diri kita menjadi prioritas yang kesekian, jauh sesudah urusan anak, suami, karier, en rumah tangga. Boro-boro ngurusin kecantikan, makan aja kadang-kadang telat!
But, bukan berarti aku menyesali kondisi lho! Justru dari situasi sehari-hari itu timbul kesadaran baru buatku. Perempuan itu ternyata LUAR BIASA!!! Di tengah kesibukan rumah tangga, masih bisa membantu suami mencari nafkah pula. Sometimes, I proud of my self. How amazing I am! Kadang-kadang aku nggak nyangka aja, sekian banyak pekerjaan ternyata bisa diselesaikan walaupun di tengah badai stress yang melanda.
Dan ternyata pula, dari kehidupan yang akhu jalani itu, lahirlah ide-ide baru buat novelku yang berikutnya. Tepatnya ada dua proyek yang lagi aku usahain (yang tragisnya nggak kelar-kelar juga). Dan aku kasih bocoran, keduanya tentang 'keperkasaan' perempuan di tengah kelemahan mereka. Tunggu aja yah, tanggal mainnya.
Walaupun temanya lebih dewasa, tepatnya bergenre chicklit, bukan berarti kamu-kamu yang berusia belasan or awal dua puluhan nggak boleh baca. Justru kamu-kamu juga perlu banget baca, biar tahu gimana rasanya jadi seorang ibu. Kamu nggak akan pernah bisa ngerasain perasaan seorang ibu sebelum kamu jadi salah satunya.
So, doain aku ya, biar tetap semangat menyelesaikan novel-novelku itu.
Daah...