Pageviews last month

Monday, 8 December 2008

CITA-CITA

Saya pernah mendengar ungkapan seperti ini : Gapailah cita-citamu setinggi bintang di langit. Tapi saya juga pernah mendengar yang seperti ini : Gantungkanlah cita-citamu setinggi kusen jendela, agar lebih mudah digapai.

Entahlah, tapi saya cenderung mendeskripsikan diri saya seperti pepatah yang ke-2. Namun itu bukan berarti saya tergolong kaum yang pesimistis. Tidak, saya hanya mencoba bersikap lebih realistis. Saya selalu berupaya menyeimbangkan setiap impian saya dengan kenyataan yang sedang saya hadapi.

Bukan pula berarti saya tidak berani bermimpi. Justru saya seorang pemimpi. Hanya saja kadang tidak berani mewujudkan mimpi-mimpi itu. Tapi, menurut Mario Teguh (kalau kamu rajin nonton Metro TV, pasti tahu dengan sosok yang satu itu. Minimal pernah dengar namanya lah..) mimpi itu harus yang tidak masuk akal. Kalau tidak begitu, maka bukan impian namanya. Dan tugas kitalah, untuk tetap menjaga agar mimpi itu tetap nyata adanya walaupun kita sudah terjaga dari tidur. Selanjutnya mulailah untuk meretas jalan agar jalan menuju mimpi itu menjadi serealitas mungkin.

Saya juga percaya ungkapan (kalau bukan Plato, berarti Aristoteles) bahwa manusia itu adalah apa yang dipikirkannya. Kalau kita berfikir kita akan berhasil, maka kita betul-betul akan berhasil. Paling tidak otak kita akan menuntun seluruh tubuh kita untuk meraih keberhasilan itu.

Dan saya bercita-cita untuk melanjutkan studi ke program master. Mungkin cita-cita yang biasa bagi kebanyakan orang. Tapi saya bermimpi untuk meraihnya di luar negeri. Mungkin Amerika, Inggris, atau ke negara Eropa lain. Waktu dulu, mimpi itu cukup di dalam benak saya saja. Tapi seseorang pernah berkata: kata-kata adalah doa. Semakin sering kita ucapkan, maka semakin dekat kita dengan apa yang kita inginkan itu.

So, saya kemudian tak ragu-ragu lagi berbagi impian itu kepada orang lain. And you know what, tiba-tiba saja semua jalan terbuka untuk saya! Semuanya jadi terasa mudah dan saya seolah-seolah selalu berada pada waktu dan tempat yang tepat.

Finally, here I am. Setelah berjibaku dalam test TPA dan TOEFL yang diadakan Bappenas dan Dikti beberapa waktu yang lampau, akhirnya saya termasuk dalam 120 orang (dari seluruh Indonesia, lho...) yang berhak mengikuti English Course for Special Purpose di ITB. Diharapkan selepas kursus gratis itu nilai TOEFL saya bisa didongkrak jadi 600, supaya layak untuk mengikuti perkuliahan di luar negeri.

Bahagia? Tentu saja. Bingung? Lebih lagi. Empat bulan bukan waktu yang singkat untuk meninggalkan orang-orang yang saya sayangi. Terutama si kecil yang belum lagi genap berusia dua tahun. Sedang lucu-lucunya, kata orang. Bisa saya bayangkan, betapa kangennya saya nanti di sana. Rasanya sayang sekali melewatkan waktu sedemikian lama tanpa turut memantau perkembangan harian buah hati kita.

Tapi, sekali lagi, pepatah lama juga berkata: No Pain, No Gain. Atau kalau orang Jawa bilang: Jer Basuki Mawa Beya (mohon maaf kepada pembaca yang asli Jawa kalau pepatah saya salah penulisannya. Maklum, saya bukan orang Jawa). Setiap nilai plus yang kita peroleh, pasti akan ada konsekuensi di belakangnya. Bukankah setiap kali kita akan naik kelas harus selalu melewati ujian terlebih dahulu?

Solusinya? Kuatkan hati, teguhkan iman! Mungkin kesulitan yang saya hadapi serta rasa rindu itu bakal jadi obat yang mujarab agar saya dapat menyelesaikan kursus itu dengan baik, and as soon as possible. Jadi pengorbanan saya dan orang-orang di sekitar saya tidak sia-sia adanya.

Satu lagi, saya juga butuh sebanyak-banyaknya doa, karena doa dari saya seorang rasanya tak cukup untuk menggoyangkan Arsy. Satu kalimat saja doa dari Anda untuk keberhasilan saya, berarti sangat banyak bagi saya. Untuk doa ikhlas Anda, semoga Allah berkenan membalasnya dengan sejuta kebaikan bagi Anda.

Amiin...

1 comment:

- said...

uuummmm
aku disini mau cih saran
kan posting anda panjang
saya anjurin pake read more
biar keliatan rapi gitu


hehehe

arigatou gozaimasu
^^,