Pageviews last month

Wednesday, 26 March 2008

Lagi-lagi Ayat-Ayat Cinta

Assalamu'alaikum

Buat Anda yang sedang tergila-gila Ayat-Ayat Cinta atau sedang terinfeksi virus Ayat-Ayat Cinta, saya yakin segala hal yang menyangkut tentangnya sangat Anda ikuti. Saya juga. Saya sudah sangat lama membaca novelnya, bahkan jauuuh sebelum novelnya jadi best seller. Waktu itu saya juga tahu dari saudara, dan numpang baca. Ternyata saya langsung terinfeksi virusnya. Saya jadi jatuh cinta pada novel bergenre religius seperti itu (walaupun tidak serta merta mengubah aliran novel saya yang cenderung serius tapi santai). Dan sepertinya banyak penulis baru yang tertular untuk ikut-ikutan membuat novel yang mirip-mirip seperti itu, dengan harapan ikut terciprat popularitas.

Terus terang saya menulis artikel ini karena tergerak setelah membaca komentar tentang filmnya dari blogger genenetto.blogspot.com, yang diposting oleh gene sendiri. Menurut saya sah-sah saja, toh setiap orang berhak punya sikap dan pendapat masing-masing, dan berhak juga menginterpretasikan apa yang telah dilihatnya.

Saya juga. Karena saya sangat menikmati novelnya, maka wajar saja kalau saya jadi punya ekspektasi yang cukup tinggi atas filmnya. Promosi yang gila-gilaan serta pro kontra yang menyertai telah membuat film ini menjadi salah satu yang paling dicari oleh masyarakat akhir-akhir ini. Dan terus terang saja (di tengah puja dan puji masyarakat tentang filmnya) saya merasa kecewa dengan film ini. Bukan berarti saya tak menghargai jerih payah mereka yang sudah terlibat selama 1,5 thn untuk menyelesaikan film ini.

Kecewa saya terlebih karena saya tak berhasil mendapatkan visualisasi yang saya harapkan selama ini. Pertama dari segi setting. Saya tahu, kru kesulitan untuk syuting di Kairo. Tapi saya rasa, sutradara sekelas mas Hanung bisa mewujudkan visualisasi tentang Kairo yang lebih baik dari itu. Saya teringat Ca Bau Kan, berhasil menghadirkan kembali setting Indonesia zaman penjajahan. Demikian pula Harry Potter, bahkan dunia yang penuh khayal yang hampir mustahil biasa terbayangkan, ternyata bisa diwujudkan, bahkan melebihi daya khayal kita.

Kedua dari segi kostum. Aduuh, itu fim kelihatan banget bukan di Mesir nya! Pakaian Noura yang ketat, memangnya cewek-cewek Bandung? Cara pemakaian jilbab para tokoh muslimah di situ pun, lebih mirip jilbab Melayu daripada jilbab Mesir. Cadar dan jubah Aisyah juga terlihat 'mengganggu, lebih mirip gamis wanita Indonesia umumnya. Mana pakaian yang serba hitam dan total menutupi bentuk badan itu? Maaf ya sebelumnya bagi penata kostum...

Ketiga, dari segi karakter. Saya akui ada bagian akting para aktornya yang sangat saya sukai. Misalnya Fedi Nuril saat mecoba sholat di dalam penjara, tapi tidak kunjung bisa. Total banget penghayatannya! Tapi sayang, kesan Fahri yang sangat menjaga adab dengan wanita kok justru hilang? Bukankah Fahri adalah orang yang sangat menjaga pandangan? Kok malah matanya kelewat sering jelalatan? Nurul juga, kok berubah jadi genit dan centil seperti itu? Mana Nurul yang lugu dan menjaga adab dan hijabnya?

Keempat, yang paling parah menurut saya, dari segi ceritanya. Dulu, sebelum menonton filmnya, saya sempat heran, kok mereka yang sudah pada nonton justru ditanyai tentang poligami, sih? POLIGAMI? Ternyata jalan ceritanya sudah bertambah jauh, bahkan mengubah essensi cerita asalnya. Di dalam novelnya, poligami bukanlah issue sentralnya. Kok jadi begini? Filmnya malah dijadikan polemik yang tidak berkesudahan akibat issue poligami ini.

Dengan begitu banyak perubahan yang terjadi (dan saya yakin akibat banyaknya kompromi yang harus dilakukan) saya jadi bertanya, apakah Kang Abik tidak dilibatkan dalam penggarapannya? Dan kalaupun iya, kok beliau setuju dengan berbagai macam kompromi itu?

Satu yang saya sukai dari film itu adalah tata musiknya. Menurut saya hal itulah yang berhasil menguras emosi penonton. Musik yang tepat dan mendayu.

Saya akhirnya menyepakati pernyataan dari seorang kritikus film (yang saya lupa namanya), kata beliau, Ayat-Ayat Cinta bukanlah film dakwah, melainkan film romance yang berlatar belakang dunia Islam. Itu saja. Jadi jangan dibesar-besarkan berbagai macam issue di dalamnya. And however, Ayat-Ayat Cinta tetaplah sebuah fiksi, bukanlah ajaran Islam yang sesungguhnya. Ayat-Ayat Cinta hanyalah secuil dari Islam yang luas dan penuh rahmah.

Wassalam.

No comments: