Selalu menjadi suatu hal yang menyesakkan dada jika mengingat sepak terjang pendidikan (khususnya pihak penyelenggara) di Indonesia tercinta ini. Seperti yang pembaca sekalian tahu (itu juga kalo Anda-Anda rajin baca tulisan saya...), saya sedang berjuang meraih beasiswa untuk sekolah lagi.
Pertama kali saya mengetahui nama saya menjadi salah satu kandidat untuk memperoleh beasiswa tersebut, hati saya sontak riang gembira berbunga-bunga. Aduhai, tidak semua orang memperoleh kesempatan yang langka itu, bukan?
Namun, kurang dari sebulan, harapan saya tak lagi seindah angan-angan, dan hati saya makin lama makin ciut saja. Semua impian saya serasa ditampar oleh realitas yang ada di negeri ini.
Semakin bertukar cerita dengan temen-teman senasib & sepenanggungan di Bandung, ditambah lagi pengalaman dari mereka yang pernah hidup di luar negeri, makin hilanglah motivasi saya.
Dari semua yang saya tangkap, dapat saya simpulkan, betapa malangnya nasib para pelajar Indonesia di luar sana, tentu saja jika pelajar itu membiayai sekolahnya sendiri, atau dibiayai oleh Pemerintah Indonesia.
I've heard the old proverb: The grass is always greener. But, this is the fact! Pelajar yang menggantungkan kelanjutan pendidikannya, bahkan mungkin juga hidupnya pada dana beasiswa dari pemerintah kita, justru diombang-ambingkan oleh birokrasi serta ketidaksinambungan program beasiswa kita.
Sungguh, betapa seram informasi yang saya terima, hanya saja saya tak berani mengungkapkannya di sini. Alangkah malangnya jika saya menjadi salah satu korbannya kelak. Maka tak heran, jika pendidikan kita tak kunjung maju dan setara dengan bangsa lain. Di tangan segelintir orang, program beasiswa ke luar negeri dijadikan tak lebih dari sekedar proyek menghabiskan dana negara, yang terkadang mengendap cukup lama (entah di mana dan apa alasannya...) sebelum tiba di tangan para pelajar yang mungkin telah putus asa terlilit hutang di negeri orang.
Sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang menerima beasiswa dari luar negeri. Secara logika, dana yang mengalir dari luar negeri seharusnya memiliki birokrasi lebih rumit untuk sampai ke tangan kita. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, dana akan selalu datang tepat waktu, sehingga para pelajar bisa tenang melanjutkan sekolah mereka.
Bukan takabur, tapi jikalau saja keberangkatan saya ini tidak berarti banyak bagi orang-orang di sekeliling saya, sungguh, saya ingin sekali membatalkannya. Tapi saya tak tega untuk membunuh harapan banyak orang, termasuk harapan saya sendiri tentunya.
Satu-satunya cara adalah saya mulai lagi dari awal, berjibaku lagi mencari beasiswa yang notabene lebih menjamin dan menjanjikan. Namun, jika tak berhasil juga, maka saya terpaksa menyiapkan mental untuk menderita di negeri orang demi pendidikan yang berharga itu.
Mohon do'anya...
Thursday, 19 February 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comment:
asalam....
setelah ane baca, kok gitu banget ya mam... ternyata indonesia ini memang g waras, maksudnya orang-orangnya yang megang itu...
emang benar, kalo urusan dipegang yg bukan ahlinya akan hancur, ...naudzubillah..kita doakan agar mereka sadar..
u/ ibu, semangat ja, cari keputusan terbaik ya Mam, jgn salah langkah, Mrs.Kartika nih masih ditunggu oleh banyak mahsiswa, jd kalo g jadi ke luar juga No problem...
fahri
Post a Comment