Pertengahan bulan Juni merupakan minggu yang berat di banyak perguruan tinggi, terutama bagi para mahasiswa dan dosen. Di minggu tersebut terdapat perhelatan penting, penentu sekaligus pengukur hasil yang dicapai selama perkuliahan enam bulan terakhir, yakni Ujian Akhir Semester (UAS). Di saat para mahasiswa berjibaku dengan rentetan soal yang menguras pikiran, para dosen pun dihadapkan pada tugas yang tak kalah menguras tenaga, yakni mengawas ujian.
Tak salah jika mengawas ujian tergolong pekerjaan yang menguras tenaga. Alih-alih menjadi pekerjaan yang membosankan dan santai, mengawasi tindak-tanduk peserta ujian malah membuat para pengawas harus bekerja ekstra. Terlebih jika di tengah ujian berlangsung para mahasiswa justru melancarkan ’jurus-jurus’ ampuh untuk memperoleh jawaban sesempurna mungkin.
Sudah menjadi rahasia umum jika setiap kali ujian akan melahirkan suatu rutinitas yang cukup mengganggu: mencontek. Namun demikian, perbuatan yang satu itu seolah tak lekang oleh zaman dan tak kunjung terbasmi dengan cara apapun.
Mencontek Sama Dengan Mencuri
Kalimat di atas selalu saya dengungkan kepada para peserta ujian, setiap kali hendak memulai ujian. Sebuah kalimat yang singkat, namun bermakna dalam. Bagi yang cukup peka perasaannya, maka satu kalimat tersebut cukup membuat mereka menghentikan niat buruk untuk mencontek. Sejatinya, mencontek memang merupakan tindakan pencurian. Mencontek hasil pekerjaan orang lain pada hakikatnya adalah mencuri hak milik seseorang. Sama halnya jika seseorang menjiplak hasil karya orang lain, maka akan langsung dicap sebagai pencuri kekayaan intelektual. Bedanya, pada kasus yang kedua, langkah-langkah hukum langsung membayangi.
Sementara itu, mencontek masih dikategorikan sebagai kejahatan berskala kecil bagi sebagian besar orang. Bahkan ada juga yang beranggapan hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah. Alhasil, tidak banyak yang mau mengantisipasi usaha-usaha percontekan dengan serius. Maka seperti yang sudah disebutkan di atas, contek-mencontek makin merajalela dengan segenap tipu dayanya, mengakar dan membudaya di kalangan mahasiswa.
Percontekan yang Up to Date
Jika diamati, perkembangan teknik percontekan berbanding lurus dengan perkembangan teknologi. Semakin canggih teknologi diciptakan manusia, maka dengan sendirinya teknik-teknik percontekan menjadi kian canggih dan beragam. Mahasiswa cenderung mengupayakan berbagai hal dalam melakukan kecurangan dalam ujian.Tak lagi mengandalkan cara-cara konvensional—menulis contekan dalam lembaran kertas kecil sudah dianggap ketinggalan zaman sekarang—para pencontek mulai mengoptimalkan gadget yang mereka punyai.
Sekedar mengirim pesan singkat sudah menjadi trend di kalangan pencari contekan. Contekers—demikian julukan saya bagi para pencontek ulung—bahkan tak sungkan untuk men-download data dari internet via telepon genggam. Kenyataan tersebut memang cukup menghenyakkan, kendati bukan hal yang mustahil dengan kemajuan teknologi yang ditawarkan oleh sejumlah operator maupun vendor telepon seluler. Bukan tak mungkin di tahun-tahun mendatang akan berkembang lagi teknik bertukar jawaban gaya baru.
Budaya Mencontek
Sesuatu dapat dianggap menjadi lazim karena terus-menerus dilakukan. Hal yang lazim dilakukan dapat berakar dan beranak pinak dengan leluasa. Bukan tak mungkin hal yang umum dan terus-menerus dilakukan itu akhirnya membudaya dalam kehidupan kita untuk kemudian menjadi tradisi.
Namun, sesuatu tak dapat kita anggap benar hanya karena dilakukan oleh banyak orang. Mencontek tetaplah suatu perbuatan yang buruk, tanpa toleransi sama sekali. Salah seorang dosen pada saat saya mengejar gelar sarjana pernah berkata dengan ekstremnya bahwa mencontek adalah perbuatan yang haram, sehingga nilai-nilai ataupun gelar sarjana yang diperoleh dengan jalan itu adalah sesuatu yang haram pula. Akhirnya penghasilan yang diperoleh dengan gelar sarjana tersebut menjadi rezeki yang tidak halal. Sungguh sebuah dobrakan!
Tanpa perlu bersikap seekstrim itu, mencontek tetaplah suatu kecurangan. Melakukan hal tersebut hanya akan menunjukkan mentalitas seorang pencuri. Ke depannya, bukan tak mungkin orang yang bersangkutan akan berkembang menjadi individu-individu yang berani melakukan berbagai jenis ’pencurian’ yang sesungguhnya. Hal ini tak berlebihan, mengingat secara psikologis seseorang yang terbiasa melakukan hal-hal berskala kecil akan dengan mudah melakukan hal yang sama dalam skala yang lebih besar. Bahkan bukan tak mungkin para pencuri kecil ini adalah cikal bakal koruptor besar di 20 tahun yang akan datang.
Say No to Cheat!
Langkah awal untuk berperang melawan tradisi mencontek dimulai dengan berhenti menganggap mencontek sebagai suatu perbuatan sepele. Melihat dampaknya, mencontek dapat menjadi sesuatu yang serius.
Walaupun kebiasaan mencontek kembali kepada individu masing-masing, para dosen sebagai tenaga pendidik dapat turut mengeliminasi kebiasaan tersebut. Sebelumnya harus disadari dulu latar belakang yang menggerakkan seorang mahasiswa untuk mencontek. Alasan utama yang jadi motivasi untuk mencontek adalah keinginan untuk memperoleh nilai yang lebih tinggi. Dalam kebanyakan kasus, saat nilai mata kuliah dikeluarkan, mahasiswa akan berbangga hati dengan nilai A atau B yang mereka peroleh. Akan tetapi, sebagian besar dari komunitas mereka tidak menyadari esensi dari nilai tersebut. Mereka bahkan tak pernah berpikir ulang layakkah mereka dengan nilai A atau B tersebut? Kebanyakan mahasiswa baru akan protes jika memperoleh nilai yang rendah. Belum pernah terjadi seorang mahasiswa yang menuntut agar nilainya diturunkan karena merasa tak pantas secara moral menyandang nilai yang tinggi.
Untuk itu sebagai dosen, kita perlu mengubah cara pandang mahasiswa agar tidak selalu berorientasi kepada nilai, melainkan berorientasi kepada studi dan proses pencarian ilmu itu sendiri. Perlu ditekankan bahwa nilai bukanlah segala-galanya, namun nilai akan mengikuti dengan sendirinya. Dengan demikian mahasiswa tak perlu risau dengan nilai yang akan diperoleh sepanjang mereka telah menjalani proses dengan semaksimal mungkin. Yang paling penting adalah memastikan bahwa mereka telah memahami konsep dari suatu mata kuliah yang tengah ditempuh.
Mencuri-curi jawaban hanyalah cermin dari ketidakpercayadirian seorang mahasiswa. Sehingga dirasakan perlunya pemberian motivasi kepada mahasiswa untuk lebih yakin kepada kemampuan mereka sendiri. Karena kemampuan setiap mahasiswa tidaklah sama, maka yang diperlukan adalah usaha yang lebih dari mahasiswa dengan kemampuan rata-rata agar memperoleh hasil yang memadai. Bukan hal yang mustahil mereka pun dapat menyamai rekan-rekan mereka yang mempunyai tingkat kecerdasan tinggi. Untuk mahasiswa yang demikian, perlu diberikan motivasi agar mereka mau berusaha lebih. Motivasi dapat diberikan di awal, di tengah, maupun di akhir perkuliahan. Bentuknya pun tak harus selalu berupa ceramah, dapat pula berupa cerita-cerita menyentuh hati, keteladanan, atau bahkan anekdot, yang pasti mudah dicerna dan diterima oleh mahasiswa.
Satu hal lagi yang penting dilakukan adalah pemberian sanksi yang tegas bagi para pelaku kecurangan ini. Pengawasan yang ketat dan disiplin selama masa ujian tetaplah menjadi hal yang tidak dapat diabaikan. Pengawas ujian harus menutup setiap celah yang memungkinkan terjadinya kecurangan. Dengan demikian, mahasiswa akan berpikir seratus kali sebelum mengikuti godaan untuk mencontek. Namun hal yang terpenting bagi para pendidik adalah konsisten terhadap nilai-nilai luhur yang mereka yakini. Jika tidak, maka mahasiswa hanya akan menganggap sebelah mata nilai-nilai yang telah ditanamkan kepada mereka itu.
Pemberantasan sesuatu yang sudah dalam mengakar tentu tidak akan mudah, namun sangat mungkin untuk dilakukan. Dimulai dari diri sendiri, komunitas kecil, dan bersama-sama secara berkesinambungan. Jika dimulai dari sekarang, maka lima tahun ke depan mencontek di kalangan mahasiswa hanya tinggal sejarah. Mencontek, apa kata dunia???
Monday, 6 July 2009
Thursday, 7 May 2009
FOUR MONTHS TO REMEMBER
Entah bagaimana mulanya
Tiba-tiba kami semua terdampar di sini
Di ruang kelas yang sesak oleh harapan
Namun penuh pengulangan yang melelahkan
Seperti pepatah lama berkata : REDUNDANT, EVERY BODY??
Kemudian kami pun merasa lelah
Hingga satu per satu menghilang dari peredaran
Ketika kekesalan kami mulai memuncak
Seseorang segera berujar : DON'T BE GALAK-GALAK, BAPAK IBU...!!
Tapi hidup itu memang tak mudah
Selalu memaksa kami untuk memilih
Dan ketika kami berada di persimpangan
Hanya ada satu jawaban : OOH, NOT ALPHA, NOT BETHA, AND NOT CHARLIE, PLEASE!!
Pada satu titik, kami pun sadar
Waktu yang ada terlalu singkat untuk kami lewati dengan keluh kesah
Maka kami pun mulai saling berbagi
Mulai dari berbagi pengalaman
Sampai dengan berbagi suami
Sembari saling menanyakan kabar : HOW ABOUT YOU, BUU..??
Ketika empat bulan itu usai
Yang tersisa adalah adalah cerita
Yang manisnya baru terasa saat kisahnya sudah berakhir
Maka untuk semua detik yang kita lalui
Dan untuk persahabatan yang kita jalin
Hanya ada satu kata : MANTAPPP!!!
(for every student in esp_dikti_itb des'08 s.d apr 09: I'll miz u !)
Tiba-tiba kami semua terdampar di sini
Di ruang kelas yang sesak oleh harapan
Namun penuh pengulangan yang melelahkan
Seperti pepatah lama berkata : REDUNDANT, EVERY BODY??
Kemudian kami pun merasa lelah
Hingga satu per satu menghilang dari peredaran
Ketika kekesalan kami mulai memuncak
Seseorang segera berujar : DON'T BE GALAK-GALAK, BAPAK IBU...!!
Tapi hidup itu memang tak mudah
Selalu memaksa kami untuk memilih
Dan ketika kami berada di persimpangan
Hanya ada satu jawaban : OOH, NOT ALPHA, NOT BETHA, AND NOT CHARLIE, PLEASE!!
Pada satu titik, kami pun sadar
Waktu yang ada terlalu singkat untuk kami lewati dengan keluh kesah
Maka kami pun mulai saling berbagi
Mulai dari berbagi pengalaman
Sampai dengan berbagi suami
Sembari saling menanyakan kabar : HOW ABOUT YOU, BUU..??
Ketika empat bulan itu usai
Yang tersisa adalah adalah cerita
Yang manisnya baru terasa saat kisahnya sudah berakhir
Maka untuk semua detik yang kita lalui
Dan untuk persahabatan yang kita jalin
Hanya ada satu kata : MANTAPPP!!!
(for every student in esp_dikti_itb des'08 s.d apr 09: I'll miz u !)
Saturday, 14 March 2009
MY NEW (AMAZING) FRIENDS!
Beberapa waktu yang lalu kami diingatkan bahwa pelatihan Bahasa Inggris yang sedang kami jalani ini sebentar lagi akan berakhir. Hitung punya hitung, ternyata tinggal satu bulan lagi. Sungguh luar biasa datangnya sang waktu itu! Sebentar saja rasanya empat bulan itu.
Setelah rundingan bersama, jadilah kami semua sepakat untuk membuat kaus kenang-kenangan yang bertuliskan nama kita semua. Uniknya, di kaus itu kami semua diberi julukan masing-masing. Bukan bermaksud apa-apa, hanya untuk mengingatkan kami di kemudian hari tentang orang yang dimaksud.
Untuk Anda sekalian, ingin sekali saya berbagi banyak cerita tentang teman-teman saya itu. Tapi dengan sedikit informasi tentang julukan mereka masing-masing, saya rasa sudah cukup untuk membayangkan mereka.
Here they are...
1. Mrs. Too Innocent to be true
Begitulah kami menjuluki Mrs. Christina. This nice lady always offer us many funny stories. Hmm.. bisa dibayangkan kan, betapa ramenya beliau? Lucunya, saking seringnya beliau becanda, kami semua akhirnya nggak mau percaya pada informasi penting yang beliau bawa, walaupun info itu benar-benar shohih! Mau dibilang untrustable woman, nggak tega. Akhirnya kami namai Mrs. Too innocent to be true.
2. The Nanny
Tidak salah kalau kami menamainya begitu, karena beliau adalah satu-satunya peserta yang hampir punya cucu, alis jadi nenek. Sebenarnya kami pengen menjuluki Mrs. Irina dengan The Translator, dengan alasan lain... (hahaha...)
3. Mr. Bambang Junior
Kalau Mrs. Christina menyandang gelar the funniest woman in the classroom, maka Mr. Nanang adalah pria yang paling lucu di kelas. Itu karena beliau pandai sekali menirukan mimik dan gaya bicara para dosen di kelas (hahaha...). Apa lagi kalau sudah menirukan Mr. Bambang, wuihh...gak ada bandingnya, deh!
4. The Invisible Man
Julukan ini pas sekali disandang Mr. Yanto! Habisnya, saking lamanya menghilang dari peredaran (alias gak pernah masuk) maka beliau 'sukar sekali untuk dilihat'.
5. Juragan Bebek
Begitu Mrs. Tetty dijuluki Juragan Bebek, kontan sekelas ketawa semua. Sebenarnya ada latar belakang cerita mengapa sampai julukan itu hadir, tapi sayang gak bisa saya ceritakan di sini. (Agak gimanaaa...gitu!)
6. Paparazzi
Sebenarnya selain julukan ini, Mrs. Yustina ingin kami juluki 'the real innocent lady'. Habis, ibu yang satu ini lugu banget, sih! Selalu menganggap serius setiap hal, bahkan hal yang lucu sekalipun. Tapi kayaknya, hobi foto-fotonya lebih menonjol, deh!
7. The Super Silent Man
Saking diemnya bapak yang satu ini, maka kami harus tega menamainya begitu. Selain terkenal pendiam, Pak Eko adalah pria yang paling smart di kelas, dengan track record sbg berikut : Nilai Pre Test paling besar, Nilai Reading IBT yang selalu mendekati 30 (wow!!), dan nilai Writing yang (hampir) selalu 30. Hanya saja bapak ini tidak berani mengambil test IELTS dikarenakan kurang pede dengan tulisan tangannya (hehe...).
8. The Walking Dictionary
Seperti halnya Mrs. Ani, sebenarnya Mr. Nanang juga layak dipanggil sebagai 'walking dictionary'. Habisnya, kedua orang itu adalah tempat yang paling pas untuk menanyakan vocab sulit, terutama kalau kami lagi pada males buka-buka kamus.Selain julukan ini, sebenarnya Mrs. Ani juga berhak disebut sebagai 'the smiling face', karena seringnya tersenyum tanpa takut giginya kering.
9. The Answering Machine
Awalnya, susah banget nyari julukan buat Mrs. Ella. Tapi, menurut Mr. Roni--yang paling sering duduk di sebelahnya kalau sedang test--Mrs. Ella sangat cepat menjawab pertanyaan, terutama kalau kita sedang diskusi di Lab Bahasa.
10. Mr. Energizer
Inilah julukan pertama yang lahir di kelas kami! Bapak yang satu ini memang paling bersemangat untuk bertanya kepada dosen, bahkan di saat kami semua udah pada ngantuk. Mr. Roniyus nggak pernah sungkan buat nanya apa saja (bahkan protes) kepada para dosen, sampe-sampe sang dosen akhirnya menyerah (hehe...salut!)
11. Our Husband
Hehehe... berhubung ibu-ibu di kelas pada jauh semua dari para suami, maka Mr. Andius secara resmi kami angkat sebagai 'suami bersama' (hahaha..). Badan Mr. Andius yang besar dan tinggi, tetap saja tidak mampu membuatnya berani protes akan julukan tersebut. Maka beliau pun menerimanya dengan pasrah namun tak rela..
12. The First Wife
Sebenarnya inilah istri sebenarnya dari Mr. Andius. Uniknya, beliaulah yang pertama kali mengajukan ide untuk menamai suaminya sebagai 'our husband'! Mrs. Nining benar-benar telah merelakan suaminya untuk dijadikan milik bersama. Bagaimanapun, beliau tetap berhak menyandang hak istimewa sebagai 'istri pertama', sedangkan sisanya hanya berhak sebagai selir-selir Mr. Andius (hahaha...).
13. Saloon Woman
Setiap inget Mrs. Ida, yang terbayang di benak kami adalah Salon Muslimah di Simpang Dago. Bagaimana tidak, di antara kami semua, ibu satu anak ini yang paling sering menghabiskan waktu di salon tersebut. Mulai dari facial, totok aura, sampai spa Jawa yang bisa makan waktu berjam-jam! Bahkan beliau rela masuk kelas terlambat demi salon tercinta (hehe...).
14. Mr. Ring! Ring!
Mr. Maman adalah satu-satunya peserta kursus yang paling berani menghidupkan HP (dengan suara yang stereo tentunya) di dalam kelas. Bahkan beliau dengan teganya menerima telepon di tengah Listening Section! Bayangkan, betapa besar keberanian bapak yang satu ini (ck..ck..)
15. Juragan Batik
Kalau tadi ada juragan bebek maka Miss Estuti adalah juragan batik. Tapi kali ini juragan batik adalah makna yang sesungguhnya, karena satu-satunya wanita single di kelas kami ini benar-benar jualan batik di kelas. Bahkan bisa dikatakan dagangannya laris manissss...!
16. Metrosexual Man
Yang pertama kali mencetuskan ide ini adalah Mr. Nanang. Saat presentasi di kelas, Mr. Nanang menampilkan Mr. Rimsky sebagai sampel fashion seorang metrosexual man. Semenjak itu, bapak yang memang bergaya trendy dan rapi ini menyandang gelar tersebut. Jika ingin membayangkan raut wajah Mr. Rimsky , bayangkan saja (alm) Chrisye. Mirip banget, sodara-sodara!
17. Rector (Can.)
Mr. Sumadi memang dosen sejati. Di tengah peserta lain yang sibuk ber-jeans ria, dia tetap setia dengan style dosennya yang rapi jali dan konvensional. Makanya beliau layak mendapat gelar kandidat rektor alis Rektor (Can.), hahaha..
18. Mr. President
Ada satu kejadian lucu baru-baru ini yang melatarbelakangi gelar untuk Mr. Aji ini. Satu-satunya pria single di kelas ini telah salah menafsirkan soal untuk Speaking Section. Saat ditanya the most valuable possesion you ever had, beliau menafsirkannya sebagai the most valuable position. So, dengan santainya beliau pun memilih jabatan Presiden sebagai jawabannya (hahaha...)
19. Once in The Blue Moon
Tidak disangka julukan yang pas betul untuk Mr. Rif'an ini keluar dari seorang Mr. Eko yang pendiam. Mr. Rif'an adalah kandidat kedua yang paling sering bolos. Masuk satu minggu untuk kemudian bolos satu bulan... That's why we call him as a person who come once in the blue moon.
20. Saliva Exchanger
Julukan ini menempel pada Mr. Heri, karena beliaulah yang pertama kali mencetuskan 'teori bertukar air liur' yang dipercayanya sangat ampuh untuk memperlancar kemampuan berbahasa asing seseorang. Teori yang aneh! Namun kami sekelas menerimanya dengan suka cita (walaupun saya jamin tak ada satu pun yang berani untuk mencobanya!).
21. The Cake Woman
This is me! Hanya karena nama saya identik dengan toko kue terkenal di Bandung, maka saya pun harus rela dijuluki 'the cake woman'. Hik..hik..hik..
That's all my friends! I guarantee that they are very nice people.
Setelah rundingan bersama, jadilah kami semua sepakat untuk membuat kaus kenang-kenangan yang bertuliskan nama kita semua. Uniknya, di kaus itu kami semua diberi julukan masing-masing. Bukan bermaksud apa-apa, hanya untuk mengingatkan kami di kemudian hari tentang orang yang dimaksud.
Untuk Anda sekalian, ingin sekali saya berbagi banyak cerita tentang teman-teman saya itu. Tapi dengan sedikit informasi tentang julukan mereka masing-masing, saya rasa sudah cukup untuk membayangkan mereka.
Here they are...
1. Mrs. Too Innocent to be true
Begitulah kami menjuluki Mrs. Christina. This nice lady always offer us many funny stories. Hmm.. bisa dibayangkan kan, betapa ramenya beliau? Lucunya, saking seringnya beliau becanda, kami semua akhirnya nggak mau percaya pada informasi penting yang beliau bawa, walaupun info itu benar-benar shohih! Mau dibilang untrustable woman, nggak tega. Akhirnya kami namai Mrs. Too innocent to be true.
2. The Nanny
Tidak salah kalau kami menamainya begitu, karena beliau adalah satu-satunya peserta yang hampir punya cucu, alis jadi nenek. Sebenarnya kami pengen menjuluki Mrs. Irina dengan The Translator, dengan alasan lain... (hahaha...)
3. Mr. Bambang Junior
Kalau Mrs. Christina menyandang gelar the funniest woman in the classroom, maka Mr. Nanang adalah pria yang paling lucu di kelas. Itu karena beliau pandai sekali menirukan mimik dan gaya bicara para dosen di kelas (hahaha...). Apa lagi kalau sudah menirukan Mr. Bambang, wuihh...gak ada bandingnya, deh!
4. The Invisible Man
Julukan ini pas sekali disandang Mr. Yanto! Habisnya, saking lamanya menghilang dari peredaran (alias gak pernah masuk) maka beliau 'sukar sekali untuk dilihat'.
5. Juragan Bebek
Begitu Mrs. Tetty dijuluki Juragan Bebek, kontan sekelas ketawa semua. Sebenarnya ada latar belakang cerita mengapa sampai julukan itu hadir, tapi sayang gak bisa saya ceritakan di sini. (Agak gimanaaa...gitu!)
6. Paparazzi
Sebenarnya selain julukan ini, Mrs. Yustina ingin kami juluki 'the real innocent lady'. Habis, ibu yang satu ini lugu banget, sih! Selalu menganggap serius setiap hal, bahkan hal yang lucu sekalipun. Tapi kayaknya, hobi foto-fotonya lebih menonjol, deh!
7. The Super Silent Man
Saking diemnya bapak yang satu ini, maka kami harus tega menamainya begitu. Selain terkenal pendiam, Pak Eko adalah pria yang paling smart di kelas, dengan track record sbg berikut : Nilai Pre Test paling besar, Nilai Reading IBT yang selalu mendekati 30 (wow!!), dan nilai Writing yang (hampir) selalu 30. Hanya saja bapak ini tidak berani mengambil test IELTS dikarenakan kurang pede dengan tulisan tangannya (hehe...).
8. The Walking Dictionary
Seperti halnya Mrs. Ani, sebenarnya Mr. Nanang juga layak dipanggil sebagai 'walking dictionary'. Habisnya, kedua orang itu adalah tempat yang paling pas untuk menanyakan vocab sulit, terutama kalau kami lagi pada males buka-buka kamus.Selain julukan ini, sebenarnya Mrs. Ani juga berhak disebut sebagai 'the smiling face', karena seringnya tersenyum tanpa takut giginya kering.
9. The Answering Machine
Awalnya, susah banget nyari julukan buat Mrs. Ella. Tapi, menurut Mr. Roni--yang paling sering duduk di sebelahnya kalau sedang test--Mrs. Ella sangat cepat menjawab pertanyaan, terutama kalau kita sedang diskusi di Lab Bahasa.
10. Mr. Energizer
Inilah julukan pertama yang lahir di kelas kami! Bapak yang satu ini memang paling bersemangat untuk bertanya kepada dosen, bahkan di saat kami semua udah pada ngantuk. Mr. Roniyus nggak pernah sungkan buat nanya apa saja (bahkan protes) kepada para dosen, sampe-sampe sang dosen akhirnya menyerah (hehe...salut!)
11. Our Husband
Hehehe... berhubung ibu-ibu di kelas pada jauh semua dari para suami, maka Mr. Andius secara resmi kami angkat sebagai 'suami bersama' (hahaha..). Badan Mr. Andius yang besar dan tinggi, tetap saja tidak mampu membuatnya berani protes akan julukan tersebut. Maka beliau pun menerimanya dengan pasrah namun tak rela..
12. The First Wife
Sebenarnya inilah istri sebenarnya dari Mr. Andius. Uniknya, beliaulah yang pertama kali mengajukan ide untuk menamai suaminya sebagai 'our husband'! Mrs. Nining benar-benar telah merelakan suaminya untuk dijadikan milik bersama. Bagaimanapun, beliau tetap berhak menyandang hak istimewa sebagai 'istri pertama', sedangkan sisanya hanya berhak sebagai selir-selir Mr. Andius (hahaha...).
13. Saloon Woman
Setiap inget Mrs. Ida, yang terbayang di benak kami adalah Salon Muslimah di Simpang Dago. Bagaimana tidak, di antara kami semua, ibu satu anak ini yang paling sering menghabiskan waktu di salon tersebut. Mulai dari facial, totok aura, sampai spa Jawa yang bisa makan waktu berjam-jam! Bahkan beliau rela masuk kelas terlambat demi salon tercinta (hehe...).
14. Mr. Ring! Ring!
Mr. Maman adalah satu-satunya peserta kursus yang paling berani menghidupkan HP (dengan suara yang stereo tentunya) di dalam kelas. Bahkan beliau dengan teganya menerima telepon di tengah Listening Section! Bayangkan, betapa besar keberanian bapak yang satu ini (ck..ck..)
15. Juragan Batik
Kalau tadi ada juragan bebek maka Miss Estuti adalah juragan batik. Tapi kali ini juragan batik adalah makna yang sesungguhnya, karena satu-satunya wanita single di kelas kami ini benar-benar jualan batik di kelas. Bahkan bisa dikatakan dagangannya laris manissss...!
16. Metrosexual Man
Yang pertama kali mencetuskan ide ini adalah Mr. Nanang. Saat presentasi di kelas, Mr. Nanang menampilkan Mr. Rimsky sebagai sampel fashion seorang metrosexual man. Semenjak itu, bapak yang memang bergaya trendy dan rapi ini menyandang gelar tersebut. Jika ingin membayangkan raut wajah Mr. Rimsky , bayangkan saja (alm) Chrisye. Mirip banget, sodara-sodara!
17. Rector (Can.)
Mr. Sumadi memang dosen sejati. Di tengah peserta lain yang sibuk ber-jeans ria, dia tetap setia dengan style dosennya yang rapi jali dan konvensional. Makanya beliau layak mendapat gelar kandidat rektor alis Rektor (Can.), hahaha..
18. Mr. President
Ada satu kejadian lucu baru-baru ini yang melatarbelakangi gelar untuk Mr. Aji ini. Satu-satunya pria single di kelas ini telah salah menafsirkan soal untuk Speaking Section. Saat ditanya the most valuable possesion you ever had, beliau menafsirkannya sebagai the most valuable position. So, dengan santainya beliau pun memilih jabatan Presiden sebagai jawabannya (hahaha...)
19. Once in The Blue Moon
Tidak disangka julukan yang pas betul untuk Mr. Rif'an ini keluar dari seorang Mr. Eko yang pendiam. Mr. Rif'an adalah kandidat kedua yang paling sering bolos. Masuk satu minggu untuk kemudian bolos satu bulan... That's why we call him as a person who come once in the blue moon.
20. Saliva Exchanger
Julukan ini menempel pada Mr. Heri, karena beliaulah yang pertama kali mencetuskan 'teori bertukar air liur' yang dipercayanya sangat ampuh untuk memperlancar kemampuan berbahasa asing seseorang. Teori yang aneh! Namun kami sekelas menerimanya dengan suka cita (walaupun saya jamin tak ada satu pun yang berani untuk mencobanya!).
21. The Cake Woman
This is me! Hanya karena nama saya identik dengan toko kue terkenal di Bandung, maka saya pun harus rela dijuluki 'the cake woman'. Hik..hik..hik..
That's all my friends! I guarantee that they are very nice people.
Thursday, 19 February 2009
MENYEDIHKAN....
Selalu menjadi suatu hal yang menyesakkan dada jika mengingat sepak terjang pendidikan (khususnya pihak penyelenggara) di Indonesia tercinta ini. Seperti yang pembaca sekalian tahu (itu juga kalo Anda-Anda rajin baca tulisan saya...), saya sedang berjuang meraih beasiswa untuk sekolah lagi.
Pertama kali saya mengetahui nama saya menjadi salah satu kandidat untuk memperoleh beasiswa tersebut, hati saya sontak riang gembira berbunga-bunga. Aduhai, tidak semua orang memperoleh kesempatan yang langka itu, bukan?
Namun, kurang dari sebulan, harapan saya tak lagi seindah angan-angan, dan hati saya makin lama makin ciut saja. Semua impian saya serasa ditampar oleh realitas yang ada di negeri ini.
Semakin bertukar cerita dengan temen-teman senasib & sepenanggungan di Bandung, ditambah lagi pengalaman dari mereka yang pernah hidup di luar negeri, makin hilanglah motivasi saya.
Dari semua yang saya tangkap, dapat saya simpulkan, betapa malangnya nasib para pelajar Indonesia di luar sana, tentu saja jika pelajar itu membiayai sekolahnya sendiri, atau dibiayai oleh Pemerintah Indonesia.
I've heard the old proverb: The grass is always greener. But, this is the fact! Pelajar yang menggantungkan kelanjutan pendidikannya, bahkan mungkin juga hidupnya pada dana beasiswa dari pemerintah kita, justru diombang-ambingkan oleh birokrasi serta ketidaksinambungan program beasiswa kita.
Sungguh, betapa seram informasi yang saya terima, hanya saja saya tak berani mengungkapkannya di sini. Alangkah malangnya jika saya menjadi salah satu korbannya kelak. Maka tak heran, jika pendidikan kita tak kunjung maju dan setara dengan bangsa lain. Di tangan segelintir orang, program beasiswa ke luar negeri dijadikan tak lebih dari sekedar proyek menghabiskan dana negara, yang terkadang mengendap cukup lama (entah di mana dan apa alasannya...) sebelum tiba di tangan para pelajar yang mungkin telah putus asa terlilit hutang di negeri orang.
Sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang menerima beasiswa dari luar negeri. Secara logika, dana yang mengalir dari luar negeri seharusnya memiliki birokrasi lebih rumit untuk sampai ke tangan kita. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, dana akan selalu datang tepat waktu, sehingga para pelajar bisa tenang melanjutkan sekolah mereka.
Bukan takabur, tapi jikalau saja keberangkatan saya ini tidak berarti banyak bagi orang-orang di sekeliling saya, sungguh, saya ingin sekali membatalkannya. Tapi saya tak tega untuk membunuh harapan banyak orang, termasuk harapan saya sendiri tentunya.
Satu-satunya cara adalah saya mulai lagi dari awal, berjibaku lagi mencari beasiswa yang notabene lebih menjamin dan menjanjikan. Namun, jika tak berhasil juga, maka saya terpaksa menyiapkan mental untuk menderita di negeri orang demi pendidikan yang berharga itu.
Mohon do'anya...
Pertama kali saya mengetahui nama saya menjadi salah satu kandidat untuk memperoleh beasiswa tersebut, hati saya sontak riang gembira berbunga-bunga. Aduhai, tidak semua orang memperoleh kesempatan yang langka itu, bukan?
Namun, kurang dari sebulan, harapan saya tak lagi seindah angan-angan, dan hati saya makin lama makin ciut saja. Semua impian saya serasa ditampar oleh realitas yang ada di negeri ini.
Semakin bertukar cerita dengan temen-teman senasib & sepenanggungan di Bandung, ditambah lagi pengalaman dari mereka yang pernah hidup di luar negeri, makin hilanglah motivasi saya.
Dari semua yang saya tangkap, dapat saya simpulkan, betapa malangnya nasib para pelajar Indonesia di luar sana, tentu saja jika pelajar itu membiayai sekolahnya sendiri, atau dibiayai oleh Pemerintah Indonesia.
I've heard the old proverb: The grass is always greener. But, this is the fact! Pelajar yang menggantungkan kelanjutan pendidikannya, bahkan mungkin juga hidupnya pada dana beasiswa dari pemerintah kita, justru diombang-ambingkan oleh birokrasi serta ketidaksinambungan program beasiswa kita.
Sungguh, betapa seram informasi yang saya terima, hanya saja saya tak berani mengungkapkannya di sini. Alangkah malangnya jika saya menjadi salah satu korbannya kelak. Maka tak heran, jika pendidikan kita tak kunjung maju dan setara dengan bangsa lain. Di tangan segelintir orang, program beasiswa ke luar negeri dijadikan tak lebih dari sekedar proyek menghabiskan dana negara, yang terkadang mengendap cukup lama (entah di mana dan apa alasannya...) sebelum tiba di tangan para pelajar yang mungkin telah putus asa terlilit hutang di negeri orang.
Sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang menerima beasiswa dari luar negeri. Secara logika, dana yang mengalir dari luar negeri seharusnya memiliki birokrasi lebih rumit untuk sampai ke tangan kita. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, dana akan selalu datang tepat waktu, sehingga para pelajar bisa tenang melanjutkan sekolah mereka.
Bukan takabur, tapi jikalau saja keberangkatan saya ini tidak berarti banyak bagi orang-orang di sekeliling saya, sungguh, saya ingin sekali membatalkannya. Tapi saya tak tega untuk membunuh harapan banyak orang, termasuk harapan saya sendiri tentunya.
Satu-satunya cara adalah saya mulai lagi dari awal, berjibaku lagi mencari beasiswa yang notabene lebih menjamin dan menjanjikan. Namun, jika tak berhasil juga, maka saya terpaksa menyiapkan mental untuk menderita di negeri orang demi pendidikan yang berharga itu.
Mohon do'anya...
Sunday, 21 December 2008
DAFTAR TUGAS
Mohon maaf sebelumnya, daftar tugas yang Anda nanti-nantikan baru sempat sekarang saya posting. Ternyata kesibukan saya di Bandung luar biasa padat, mulai dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, nonstop memperdalam bahasa Inggris. Rasanya saya sudah mau muntah-muntah saking banyaknya materi yang harus ditelan. Semoga yang saya kerjakan di sini tidak sia-sia. Amien!
Beberapa daftar tugas dapat Anda lihat pada artikel di bawahnya. UNTUK PERHATIAN : kumpulkanlah tugas tersebut tepat waktu, agar nilai Anda tidak saya discount 30%. Khusus untuk mahasiswa konversi (baik di kelas konversi maupun bergabung di reguler) Tugas I dapat dikumpul tanggal 3 Januari digabung dengan Tugas II.
Setiap kali mengumpul tugas, pastikan bahwa Anda mengabsen (lembar absen ada pada Asisten saya, Tri Puspita). Satu tugas setara dengan satu kali pertemuan.
Untuk bahan UAS, pelajari materi sebelum mid sekaligus materi tugas ini. Soal dari saya tidak akan jauh-jauh dari situ.
Selamat Belajar!!!
Beberapa daftar tugas dapat Anda lihat pada artikel di bawahnya. UNTUK PERHATIAN : kumpulkanlah tugas tersebut tepat waktu, agar nilai Anda tidak saya discount 30%. Khusus untuk mahasiswa konversi (baik di kelas konversi maupun bergabung di reguler) Tugas I dapat dikumpul tanggal 3 Januari digabung dengan Tugas II.
Setiap kali mengumpul tugas, pastikan bahwa Anda mengabsen (lembar absen ada pada Asisten saya, Tri Puspita). Satu tugas setara dengan satu kali pertemuan.
Untuk bahan UAS, pelajari materi sebelum mid sekaligus materi tugas ini. Soal dari saya tidak akan jauh-jauh dari situ.
Selamat Belajar!!!
TUGAS EVOLUSI
Berikut adalah tugas perkuliahan yang harus dikumpulkan tepat waktu pada Asisten saya, Tri Puspita. Tugas ini adalah untuk semua mahasiswa yang mengikuti kuliah Evolusi.
Tugas I :
Jelaskanlah sejarah perkembangan manusia secara lengkap menurut teori Evolusi! Lengkapilah dengan gambar, jika memungkinkan.
(Dikumpul paling lambat tanggal 27 Desember 2008)
Tugas II :
Ceritakanlah mengenai Evolusi Organik! Menurut Anda, apakah teori tersebut bertentangan dengan agama atau tidak? Jelaskanlah alasan Anda!
(Dikumpul paling lambat tanggal 3 Januari 2009)
Khusus mahasiswa konversi (baik yang mengikuti kelas reguler maupun konversi), selain tugas di atas, berikut adalah tugas tambahan untuk Anda :
Pelajarilah tentang Hukum Hardy-Weiberg, lalu kerjakanlah soal-soal hitungan mengenai frekuensi alela berdasarkan hukum tersebut! Anda boleh mencari soal-soal tersebut dari berbagai sumber yang terkait. Kerjakanlah minimal 7 soal!
(Dikumpul paling lambat tanggal 10 Januari 2009)
Tugas I :
Jelaskanlah sejarah perkembangan manusia secara lengkap menurut teori Evolusi! Lengkapilah dengan gambar, jika memungkinkan.
(Dikumpul paling lambat tanggal 27 Desember 2008)
Tugas II :
Ceritakanlah mengenai Evolusi Organik! Menurut Anda, apakah teori tersebut bertentangan dengan agama atau tidak? Jelaskanlah alasan Anda!
(Dikumpul paling lambat tanggal 3 Januari 2009)
Khusus mahasiswa konversi (baik yang mengikuti kelas reguler maupun konversi), selain tugas di atas, berikut adalah tugas tambahan untuk Anda :
Pelajarilah tentang Hukum Hardy-Weiberg, lalu kerjakanlah soal-soal hitungan mengenai frekuensi alela berdasarkan hukum tersebut! Anda boleh mencari soal-soal tersebut dari berbagai sumber yang terkait. Kerjakanlah minimal 7 soal!
(Dikumpul paling lambat tanggal 10 Januari 2009)
Subscribe to:
Comments (Atom)

